Loss Aversion
Loss aversion adalah kecenderungan psikologis di mana penolakan terhadap kerugian lebih kuat daripada dorongan untuk mendapatkan keuntungan dengan magnitudo yang sama. Dalam trading, ini sering membuat trader terlalu protektif pada modal yang “terasa milik sendiri” dan terlalu agresif menghindari pengakuan rugi.
Peringatan: pembahasan perilaku; bukan rekomendasi strategi atau ukuran posisi.
Kerugian terasa “lebih besar”
Teori prospek (Kahneman & Tversky) menjelaskan bahwa orang menilai hasil relatif terhadap titik acuan (reference point) — misalnya saldo kemarin, harga entry, atau target mental — bukan secara mutlak. Di bawah titik acuan itu, kurva utilitas cenderung curam: kerugian tambahan sangat menyakitkan, sehingga trader menunda exit atau menggandakan taruhan untuk menghindari mengakui rugi.
Titik acuan dalam chart
- Harga masuk: floating loss terasa seperti “utang” kepada diri sendiri; floating profit terasa seperti “bonus” yang tidak boleh hilang.
- High tahunan atau angka bulat: bisa menjadi anchor emosional yang memicu takut beli terlalu tinggi atau menahan short secara irasional.
- Saldo puncak akun: drawdown dari peak sering lebih menyakitkan daripada apresiasi dari trough — memicu pengambilan risiko tidak stabil.
Implikasi untuk keputusan
Mengatasi loss aversion bukan berarti menjadi acuh tak acuh terhadap rugi, tetapi menjadikan kerugian terkontrol sebagai bagian dari model bisnis trading: stop dan ukuran posisi ditetapkan sebelum emosi masuk, dan exit sesuai aturan mengalahkan keinginan menunda pengakuan kerugian. Hubungan erat dengan endowment effect dan status quo bias.
Seri Trading Psychology: Trading Psychology · Pentingnya · Loss aversion · Endowment · Status quo · Anchoring · Confirmation · Gen & naluri · Mitos & perbaikan